Latar Belakang Pertandingan di Anfield – Real Madrid datang ke Anfield dengan status sebagai salah satu tim spaceman tak terkalahkan di fase grup Liga Champions musim 2025/2026. Dengan skuad bertabur bintang seperti Kylian Mbappé, Jude Bellingham, dan Thibaut Courtois, ekspektasi tinggi menyelimuti tim asuhan Carlo Ancelotti.
Namun, Liverpool tampil dominan sejak menit awal. Gol tunggal Alexis Mac Allister di menit ke-61 menjadi pembeda, sekaligus mengakhiri rentetan kemenangan Real Madrid. Meski secara statistik pertandingan berlangsung seimbang, hasil akhir menunjukkan bahwa Los Blancos gagal mengeksekusi peluang dan menjaga konsistensi permainan.
Pemain yang Jadi Sorotan: Dean Huijsen
Nama yang paling banyak disebut dalam kritik pasca pertandingan adalah Dean Huijsen, bek muda bonus new member yang dipercaya mengisi lini belakang menggantikan Antonio Rüdiger yang absen karena cedera. Penampilannya dinilai kurang solid, terutama dalam mengantisipasi bola-bola mati dan duel udara.
Alasan Huijsen Disalahkan
- Kesalahan Posisi: Dalam proses gol Mac Allister, Huijsen gagal menutup ruang dan kalah dalam duel udara.
- Kurangnya Komunikasi: Beberapa kali terlihat miskomunikasi antara Huijsen dan rekan setimnya seperti Nacho dan Courtois.
- Minim Pengalaman: Sebagai pemain muda, Huijsen belum memiliki jam terbang yang cukup di laga besar seperti di Anfield.
Analisis Taktis: Peran Huijsen dalam Skema Ancelotti
Carlo Ancelotti memilih formasi 4-3-3 dengan Huijsen sebagai bek tengah kanan. Keputusan ini cukup berisiko mengingat tekanan tinggi dari Liverpool yang dikenal agresif di kandang.
Kelemahan yang Terlihat
- Distribusi Bola: Huijsen kesulitan membangun serangan dari belakang, sering kali memilih umpan panjang yang tidak akurat.
- Duel Fisik: Dalam beberapa momen, ia kalah duel dengan Darwin Núñez dan Mohamed Salah.
- Reaksi Terhadap Tekanan: Terlihat gugup saat menghadapi pressing intens dari lini depan Liverpool.
Reaksi Media dan Suporter
Media Spanyol dan Inggris ramai membahas performa Huijsen. Beberapa headline menyebutnya sebagai “lubang di pertahanan Madrid”, sementara fans di media sosial mempertanyakan keputusan Ancelotti menurunkan pemain muda di laga krusial.
Kutipan Reaksi
- “Huijsen terlihat belum siap untuk laga sebesar ini.”
- “Kesalahan positioning-nya sangat fatal dan berkontribusi langsung pada kekalahan.”
- “Ancelotti harus bertanggung jawab atas keputusan ini.”
Pembelaan dari Rekan Setim dan Pelatih
Meski mendapat kritik tajam, beberapa pemain senior seperti Luka Modric dan Courtois memberikan dukungan moral kepada Huijsen. Mereka menekankan bahwa kekalahan adalah tanggung jawab kolektif, bukan individu.
Pernyataan Ancelotti
- “Huijsen adalah pemain muda berbakat. Kami semua belajar dari kekalahan ini.”
- “Saya yang memilih susunan pemain, jadi tanggung jawab ada pada saya.”
Perbandingan Statistik Huijsen dengan Bek Lain
| Pemain | Duel Udara Menang | Umpan Akurat | Intersep | Blok |
|---|---|---|---|---|
| Huijsen | 2 dari 6 | 78% | 1 | 0 |
| Nacho | 4 dari 5 | 89% | 3 | 2 |
| Rüdiger (rata-rata) | 5 dari 7 | 92% | 4 | 3 |
Statistik menunjukkan bahwa Huijsen tampil di bawah standar bek utama Madrid.
Dampak Kekalahan terhadap Mental Tim
Kekalahan di Anfield bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal kepercayaan diri. Tim yang sebelumnya tampil dominan kini harus menghadapi tekanan internal dan eksternal.
Efek Jangka Pendek
- Rotasi Pemain: Ancelotti kemungkinan akan mengubah komposisi bek tengah di laga berikutnya.
- Evaluasi Strategi: Fokus pada penguatan lini belakang dan pengambilan keputusan saat transisi.
Efek Jangka Panjang
- Pengembangan Huijsen: Kekalahan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi Huijsen untuk berkembang.
- Kepercayaan Publik: Madrid harus segera bangkit agar tidak kehilangan dukungan suporter.
Kesimpulan
Dean Huijsen memang menjadi sorotan utama dalam kekalahan Real Madrid di Anfield, namun menyalahkan satu pemain secara mutlak bukanlah solusi. Kekalahan ini adalah hasil dari kombinasi faktor: strategi yang kurang tepat, tekanan lawan yang tinggi, dan performa tim yang tidak maksimal.
Sebagai pemain muda, Huijsen memiliki potensi besar. Kritik yang diterimanya bisa menjadi bahan evaluasi untuk tumbuh menjadi bek tangguh di masa depan. Real Madrid pun harus belajar dari kesalahan ini dan memperbaiki performa agar tetap kompetitif di Liga Champions.
